Prodi Pendidikan Biologi FKIP UNS mengajak untuk memperkenalkan Marine Education di sekolah

Surakarta, 5 Juli 2020. Program Studi Pendidikan Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta bersama Himpunan Mahasiswa (HMP) Biosfer dan Himpunan Pendidik dan Peneliti Biologi Indonesia (HPPBI) menyelenggarakan Webinar dengan tema “Let’s explore Our Seas and Oceans: Introducing Marine Education At School”. Webinar dilaksanakan dengan video conference melalui aplkasi Zoom dan  disiarkan secara live melalui YouTube channel Pend Biologi FKIP UNS (https://youtu.be/rRChrQqAyt0) pada pukul 09.00 sampai 12.00, Minggu (5/7/2020). Kegiatan ini bertujuan untuk mengenalkan pentingnya literasi serta pendidikan kelautan kepada akademisi dan juga masyarakat.

Bertindak sebagai narasumber adalah Hung-Shan Lee, Ph.D, yang merupakan alumni dari National Sun Yat Sen University, National Taiwan Ocean University, dan meraih PhD di National Taiwan Normal University. Mr. Lee adalah guru di Heng-Shan Elementary School of New Taipei City. Pembicara kedua adalah Rachma Indriyani, S.H., L.LM, dosen Faculty of Law,  dan peneliti di Environmental Reseach Center UNS. Saat ini beliau sedang menempuh program Doctoral di School of Education, Graduate School of Law, Ghazali Safie Graduate School of Government, Universiti Utara Malaysia.  Sedangkan pembicara ketiga dan sekaligus moderator adalah Murni Ramli, Ed.D, dosen di Prodi Pendidikan Biolog UNS, dan sekaligus Sekjen HPPBI). Turut hadir pula Kepala Program Studi Pendidikan Biologi FKIP UNS, Dr. Muzzazinah M.Si. Webinar ini diikuti oleh 195 peserta dari berbagai provinsi di Indonesia, dan beragam afiliasi, mulai dari universitas negeri dan swasta, politeknik dan sekolah tinggi, instansi negara dan daerah, sekolah, serta yayasan dan organisasi yang bergerak di bidang biologi, kemaritiman, kelautan dan perikanan.

Mr. Hung-Shan Lee menyampaikan materi Best Practices Marine Education in the Classroom. Teacher Lee menjelaskan mengenai pembelajaran dengan topik marine di kelasnya. Berbagai aktivitas telah dia terapkan di kelas, yang utamanya adalah memberikan pengalaman langsung kepada siswa melalui kegiatan eksperimen atau praktek langsung, observasi, membaca, mengajak siswa ke pasar, ke pantai, dan ke museum, serta mendatangkan pakar dari bidang marine ke kelasnya. Beliau juga menjelaskan risetnya tentang bagaimana mengajarkan “Shark” kepada siswa kelas 4 di SDnya. “Saya berusaha mengubah miskonsepsi siswa tentang shark. Langkah pertana yang perlu dilakukan adalah mengecek miskonsepsi siswa, kemudian menyusun desain riset dan membaca literatur. Saya juga mengundang expert untuk berbicara mengenai Ekologi, Biologi dan Fisheries Conservation” jelasnya. Dalam risetnya teacher Lee menggunakan specimen hiu, model mainan hiu, dan rangka tubuh hiu. Riset ini telah diulangnya kembali kepada siswa yang sama saat mereka duduk di kelas 6. Hasil risetnya menunjukkan bahwa mengecek prior knowledge siswa sebelum pembelajaran adalah sangat penting dalam memulai active learning, menyediakan hands on activities, dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengeksplore materi melalui bacaan dan pencarian di internet juga merupakan tindakan yang tepat. Menjawab pertanyaan dari peserta, Mr. Lee menyarankan agar guru yang sekolahnya berada jauh dari laut, dapat mengenalkan marine education dengan menggunakan organisme laut yang ada dekat dengan siswa, misalnya ikan yang sehari-hari siswa konsumsi di rumahnya. Beliau juga mencontohkan komunitas belajar yang terdiri dari guru, pakar, dan orang tua yang dibentuknya, dan terbukti mejadi wadah untuk bisa saling tukar informasi, pengetahuan, dan kebaruan ilmu terkait marine education.

Pembicara kedua, Rachma Indriyani S.H., L.LM menguraikan tentang batas-batas zona laut dan hukum kelautan, yang merupakan aspek penting dalam marine education. “Batas-batas wilayah laut sangatlah penting bagi sebuah negara karena menyangkut sumber daya yang ada di laut, aktivitas kelautan yang dapat berlangsung, keamanan dan kedamaian antarnegara mengenai batas wilayah. Indonesia sudah menerapkan batas wilayah seperti Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Indonesia” jelasnya. Indonesia merupakan negara maritim dan negara kepulauan terbesar, dengan potensi dan kontribusi perikanan yang signifikan bagi dunia. Tidak hanya menjadi habitat bagi berbagai spesies ikan, laut nusantara juga menjadi tumpuan hidup masyarakat dengan berbagai jenis usaha.  Pengetahuan tentang zona laut, sustainable fishing, dan potensi kelautan di Indonesia penting untuk dimasukkan sebagai bagian dari pembelajaran kelautan.

Narasumber ketiga Murni Ramli Ed.,D menjelaskan analisis kurikulum marine education di Taiwan, dan Indonesia. Beliau menyampaikan hasil riset analisis kurikulum yang dilakukannya saat mengikuti Taiwan Fellowship 2018 di National Taiwan Normal University. Menurut Murni, marine education di Indonesia belum secara eksplisit muncul di Kurikulum 2013, namun ada beberapa topik yang kemungkinan guru berpotensi mengembangkannya sebagai pembelajaran kelautan, misalnya pada topik-topik terkait life sciences atau biologi. Di level perguruan tinggi, beberapa universitas menyelenggarakan Prodi Kelautan, dan Prodi Pendidikan Kelautan. Sedangkan di jenjang sekolah, telah diinisiasi pada tahun 2019, Sekolah Pantai Indonesia oleh Kementrian Perikanan dan Kelautan sebagai bagian dari Gerakan Cinta Laut. “Di Taiwan, marine education telah sangat jelas didefinisikan dan didesain dalam Kurikulum Sains. Marine education bukan merupakan nama mata pelajaran, tetapi sebagai salah satu dari empat learning issue, yang harus dimasukkan dalam pembelajaran sains. Ketiga learning issue lainnya adalah gender equality education, human right education, dan environmental education” jelasnya. Ada lima topik dalam marine education di Taiwan, yaitu marine leisure, marine culture, marine society, marine science and technology, dan marine resource and sustainability. Keempat topik ini diajarkan secara integratif dan interdisciplinary dalam pembelajaran sains di semua jenjang sekolah. Webinar Marine Education mendapatkan respon positif dari peserta, sehingga ke depan Prodi Pendidikan Biologi FKIP UNS merencanakan untuk menyelenggarakan webinar lanjutan dengan topik terkait, dan telah mengintegrasikan marine education di dalam kurikulum Merdeka Belajar-Kampus Merdeka Prodi.

Blog Attachment

Leave us a Comment